Sexy Banget

Rabu, 17 November 2010

Kritikan Agama Marx ke-Masyarakat

Karl Marx mengawali pemikirannya tentang kritik masyarakat dengan mengacu pada apa yang diungkapkan oleh Feuerbach berkenaan dengan kritik agama. Bagi Feuerbach, supaya manusia dapat bebas dan mengaktualisasikan hakikatnya secara sepenuhnya, agama harus ditiadakan. Marx lebih jauh menangkap bahwa kritik agama perlu sampai pada kritik terhadap kondisi sosial yang menciptakan agama tersebut. Dalam hal ini, kemudian Marx sampai pada kesimpulan bahwa perlu ada suatu revolusi total oleh kaum proletariat untuk dapat membebaskan manusia dari bentuk keterasingan terutama keterasingan sosial (tidak lagi agama) terlebih dengan adanya masyarakat kelas yang mana kelas bawah mengalami ketidakadilan dan ketertindasan yang juga agama turut serta di dalamnya. Yang menjadi cita-cita adalah terbentuknya masyarakat tanpa kelas. Oleh karenanya menjadi jelas bahwa bagi Marx, kritik agama tidak dapat diabaikan sebagai  masuk pada kritik masyarakat. Kritik agama justru menjadi awal dari kritik-kritik yang lain.













title="Add to TheFreeDictionary.com">Add to TheFreeDictionary.com

















Free Online Dictionary

Wilayah Dialog Antar Agama


Dialog merupakan salah satu sarana untuk menuju suatu komunitas yang harmonis. Dialog merupakan ajaran Islam yang telah ditanamkan sejak dini. Pembicaraan tentang dialog ini tidak bias terlepas dari subjektivitas dan respek. Hal tersebut disebabkan perbedaan dasar acuan masing-masing pihak. Pada prinsipnya Islam membuka pintu dialog antar umat beragama dalam berbagai bidang yang dikelompokkan dalam dua wilayah :
1. Bidang Teologi
Bidang Teologi merupakan salah satu wilayah dialog yang tidak terhindar dari perselisihan antar umat beragama, karena perbedaan persepsi dari ajarannya. Dalam Islam dialog dalam wilayah teologi didasarkan kepada prinsip “bebas menentukan pilihan”[1] dan tidak ada paksaan”[2]. Konsekwensi dari prinsip tersebut adalah bahwa Islam mengakui umat Islam di dunia tidak mungkin semuanya bersepakat dalam segala hal, termasuk dalam masalah teologi.[3]
Teologi menurut Islam adalah segala aktifitas atau hal-hal yang bersifat Aqidah. Pendirian Islam dalam dialog wilayah teologi ini adalah tetap memelihara aqidah tidak mengaburkan apalagi merusaknya, dialog dalam wilayah teologis ini mempunyai konsekwensi-konsekwensi : 
Pertama, konsekwensi dalam bentuk pengakuan tulus, bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak, yang menjadi sumber semua wujud  yang nisbi. Pengakuan ini mengandung konsekwensi suatu sikap religiusitas dalam bentuk ritual-ritual dan simbol-simbol. Karena tanpa adanya pengakuan pada wilayah  inilah yang sering menjadi pemicu konflik antar umat beragama. Toleransi dalam Islam bukanlah sikap kompromi dalam beribadah ataupun mengakui kebenaran agama lain.
Kedua, konsekwensi yang membawa kepada persamaan manusia dalam harkat dan martabat. Tidak seorangpun yang memiliki hak untuk memaksa orang lain mengikuti pandangannya. Bahkan seorang Nabi pun tidak berhak melakukan paksaan dalam penyampaian kebenaran untuk diterima.
           2.Bidang Muamalah
   Bidang muamalah adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan seperti kebudayaan, peradaban, politik, ekonomi dan lainnya. Dalam hal ini Islam tidak bias bersikap eksklusif, karena Islam bukanlah merupakan suatu komunitas yang berada diluar dari komunitas yang lain.[4] Dimensi muamalah ini merupakan sebuah dinamika kehidupan manusia yang selalu berubah-rubah dan berkembang. Islam menuntun pengembangan dimensi-dimensi kemasyarakatan tersebut dengan tujuan positif dan menghindarkan sikap-sikap yang merusak sesuai nilai-nilai yang terdapat dalam al Qor’an.[5]
Diantar berbagai bentuk dialog diatas, ada kecenderungan, bahwa dialog pada bidang ini  dianggap paling tepat dikembangkan saat ini. Umat beragama saat ini bukan hanya mendambakan koeksistensi damai atau toleransi pasif satu sama lain, melainkan suatu sharing kehidupan yang lebih aktif, di mana penganut setiap agama menghidupi  nilai-nilai tertinggi agamanya sendiri dan serentak pula siap untuk menghormati penganut agama lain. Dialog ini memberi tekanan pada terciptanya jama’ah umat beriman yang bersama-sama hidup rukun, bukan pada dialog sebagai diskusi mengenai perbedaan dalam dogma atau praktek keagamaan, tetapi lebih jauh sebagai wujud religiusitas keagamaan yang dianut, dalam bentuk menghargai, memperlakukan dan menolong semua manusia tanpa harus membeda-bedakan latar belakang keagamaannya.


[1]Al Kahfi : 29
[2]Al Baqarah : 256
[3]A. Azhar Basyir, Manusia, Kebenaran Agama dan Tolerans,  ( Toleransi : UII, 1981 ), p. 22
[4]Suryana A. Ja,rah dan M. Thalib, Toleransi dan Pembinaan Budaya Dialog dan Transformasi, dalam Abdul Basyir Saliso dkk ( ed. ) ( Yogyakarta : LESFI, 1993 ), p. 57
[5]Burhanudddin Daya, Al Qor’an dan Pembinaan Budaya Dialog dan Transformasi, dalam Abdul Basyir Saliso dkk ( ed. ), Yogyakarta : LESFI, 1993 ), p. 57












title="Add to TheFreeDictionary.com">Add to TheFreeDictionary.com

















Free Online Dictionary

Teman-teman yang mendukung, yaitu :